Penjelasan Detail Intervensi Stunting di Indonesia
- account_circle Boas Sababang
- calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
- visibility 45
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh kronis pada anak akibat kekurangan gizi dalam waktu lama, terutama selama 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) — dari masa kehamilan hingga anak berusia 2 tahun. Intervensi stunting di Indonesia bersifat konvergen, menggabungkan dua pendekatan utama: intervensi gizi spesifik (langsung menangani penyebab gizi) dan intervensi gizi sensitif (menangani penyebab tidak langsung seperti sanitasi, pendidikan, dan kemiskinan).Pemerintah menetapkan target melalui Strategi Nasional Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting (Stranas P3S) 2025-2029, dengan tujuan menurunkan prevalensi stunting menjadi 14,2% pada 2029 dan 5% pada 2045. Prevalensi nasional sudah turun menjadi 19,8% pada 2024 (dari 21,5% di 2023), menurut Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024.1. Intervensi Gizi Spesifik (Kontribusi ~30% Penurunan Stunting)Intervensi ini dilakukan sepanjang siklus kehidupan dengan 11 indikator utama yang difokuskan pada remaja putri, ibu hamil, dan balita.A. Pada Remaja Putri (Pra-Konsepsi)
- Skrining anemia pada siswi kelas 7 dan kelas 10.
- Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) mingguan (minimal 52 tablet/tahun) untuk mencegah anemia sebelum kehamilan.
- Edukasi gizi seimbang, aktivitas fisik, dan pencegahan pernikahan dini melalui program “Aksi Bergizi” di sekolah dan posyandu remaja.
B. Pada Ibu Hamil
- Pemeriksaan kehamilan minimal 6 kali (ANC 6 kali), dengan minimal 2 kali oleh dokter.
- Konsumsi TTD atau Multiple Micronutrient Supplement (MMS) minimal 180 tablet selama kehamilan.
- Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi ibu hamil dengan Kekurangan Energi Kronis (KEK).
- Pencegahan dan pengobatan malaria, kecacingan, serta imunisasi Tetanus Toksoid (TT).
- Konseling gizi dan pemberian PMT lokal berbasis pangan setempat.
C. Pada Bayi dan Balita (0–59 Bulan)
- ASI Eksklusif selama 6 bulan pertama.
- Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang bergizi, adekuat, dan aman mulai usia 6 bulan.
- Pemberian makanan tambahan (PMT) untuk balita gizi kurang/gizi buruk.
- Pemantauan pertumbuhan bulanan di Posyandu (pengukuran berat badan, panjang/tinggi badan, dan lingkar kepala).
- Pemberian suplemen Vitamin A, imunisasi lengkap, dan tata laksana gizi buruk (jika diperlukan dengan RUTF — Ready-to-Use Therapeutic Food).
- Stimulasi perkembangan anak (early childhood development).
2. Intervensi Gizi Sensitif (Kontribusi ~70% Penurunan Stunting)Intervensi ini menangani faktor pendukung dan dilakukan lintas sektor:
- Air Minum dan Sanitasi Layak (PAMSIMAS, program Stop Buang Air Besar Sembarangan).
- Peningkatan Akses Pangan Bergizi dan ketahanan pangan keluarga (program pekarangan pangan, diversifikasi pangan lokal).
- Pendidikan dan Perubahan Perilaku (kampanye nasional, kelas ibu hamil, konseling parenting).
- Kemiskinan dan Perlindungan Sosial (Program Keluarga Harapan/PKH, bantuan pangan).
- Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga (pendidikan remaja putri, pencegahan pernikahan dini, KB).
- Infrastruktur dan Lingkungan (rumah sehat, akses listrik, transportasi di daerah 3T).
- Penulis: Boas Sababang
- Editor: Tim Redaksi
- Sumber: https://databoks.katadata.co.id/demografi/statistik/69fad1077de11/skor-indeks-ketimpangan-gender-di-indonesia-terus-melandai-hingga-2025



Saat ini belum ada komentar